Halaman

Jumat, 13 April 2012

Sikap tanggung jawab dan etos kerja sosial

Sikap Rasa Tanggung Jawab

    Tanggung jawab adalah suatu yang terpikul kewajiban untuk menunaikan atas diri seseorang yang sudah dewasa. Sedangkan pertanggungjawabn berarti menunaikan atau mengerjakan tugas kewajibannya dengan sebaik-baiknya dan berani dalam menerima akibat dai pekerjaan yang dilakukannya (Zainuri 1986)


Sedangkan rangsangan yang mengkibatkan seseorang mempunyai rasa tanggung jawab adalah erat kaitannya dengan tugas yang dikerjakan itu harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Apabila rasa tanggung jawab ini telah dimiliki oleh seseorang dalam menerima tugas, maka akan menimbulkan rasa percaya diri, sehingga tidak diperlukan pengawasan dari orang lain secara terus menerus.

Contoh yang dapat dikemukakan dalam permsalahan ini misalnya: seorang siswa yang sudah memiliki rasa tanggung jawab maka ia akan menerima apa saja yang ditugaskan oleh gurunya seta siap menanggung resiko dari pelaksanaan tugasnya itu. Baik tugas itu berupa tugas pekerjaan rumah maupun tugas-tugas yang perlu dikerjakan pada saat itu juga. Dengan perkataan lain, siswa yang memiliki rasa tanggung jawab ini setidaknya akan :

    * - Selalu mengerjakan tugas yang di berikan guru.
    * - Ikut menjaga kebesihan dan keindahan sekolah
    * - Mengerjakan piket yang di bebankan oleh sekolah
    * - Berpartisipasi dalam kegiatan kelompok.


Sikap Semangat (Etos) Kerja

Yang dimaksud dengan sikap semangat (etos) kerja dalam pembahasan ini adalah giat dan semangat dalam mengikuti kegiatan sekolah, dan giat mencatat materi pelajaran yang disampaikan guru. Dengan adanya semangat (etos) kerja untuk belajar maka siswa akan senantiasa mempunyai tambahan pengetahuan, dengan pengetahun tersebut siswa yang bersangkutan timbul dalam dirinya untuk selalu menolong temannyayang kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar. Sikap ini merupakan sikap sosial yang timbul dari dalam diri anak karena dipengaruhi oleh adanya perasaan setia kawan.

Demikian halnya dengan semangat (etos) kerja dalam mencatat keterangan pelajaran yang disampaikan oleh guru agama. Dengan semangat mencatat ini maka siswa yang bersangkutan tidak akan tertinggalan pelajaranya dan selanjutnya akan timbul dalam dirinya untuk memberikan catatannya guna di contoh oleh siswa lain yang memang terlambat cara menyerap materi pelajarn yang disampaikan guru agamanya.

Zainuri, Drs,dkk, Pendidikan Agama Islam SMA Kelas III,( Bandung:Armico, 1986), hal.16

1 komentar: